Alienasi dalam Dunia yang Serba Objektif
Mungkin fenomena ini dimulai ketika mereka, para ilmuwan dan pemikir, mulai memahami manusia dengan cara mengambil jarak dengannya. Maka terbitlah jurnal-jurnal penelitian sebagai pencapaian terakhir atas kehausan terhadap cara pemahaman dunia yang objektif. Emosi haram dilibatkan. Subjektivitas emosi berpotensi membiaskan hasil penelitian. Rasionalitas yang jernih lah yang diperlukan. Dengan rasio yang sama kita semua akan menemukan kebenaran yang satu, begitu kata mereka.
Balairung: Ibadah Manusia Merdeka
Judul tulisan terinspirasi dari judul esainya Bertrand Russell, A Freeman’s Worship, sebuah usaha untuk mendamaikan antara waktu, takdir, dan kematian dengan impuls manusia yang mencari makna hidupnya. Tulisan ini dimaksudkan sebagai sebuah apresiasi sekaligus kritik terhadap ruh Balairung kini. Dan mungkin juga Anda.
***
Saat paling eksistensialis bagi generasi yang lahir pada tahun 90an mungkin masa SMA kelas 3. Mereka dipaparkan pilihan-pilihan dan kemungkinan-kemungkinan besar. Apakah saya akan lulus Ujian Nasional? Apakah saya harus meneruskan kuliah atau langsung berkerja? Kalau meneruskan kuliah, jurusan apa yang harusnya saya pilih? Akan menjadi apa saya nanti? Dan, pada akhirnya manusia-manusia itu tertuntut untuk menjawab pertanyaan, seperti apa kehidupan yang kelak saya jalani nanti?
Karena Kita Semua Adalah Landak
Alkisah pada musim dingin, seekor landak menggigil kedinginan. Sebelum divonis mati membeku ia memutar otak untuk mendapatkan ide bagaimana caranya mengusir rasa dingin itu. Tentu saja tubuhku akan hangat jika aku mendekatkan diri dengan landak lain, pikirnya dalam hati. Tidak jauh dari sana duduk juga seekor landak lain yang berpikiran sama dengannya. Mereka saling merapatkan diri demi berbagi sedikit kehangatan, agar tetap bertahan hidup. Betapapun, semakin mereka mendekatkan diri semakin mereka saling melukai. Duri-duri tajam yang di setiap mili mencuat dari sekujur tubuh mereka merupakan bagian yang tak terpisahkan. (lagi…)
Kierkegaard
Pernah, dalam tulisannya, Kierkegaard ngece si Hegel. Katanya, “While the ponderous sir Professor explains the entire mystery of life, he has in distraction forgotten his own name; that he is a man, neither more nor less, not a fantastic three-eighths of paragraph.”
Maksudnya Kierkegaard itu, si Hegel itu terlalu asyik dengan pencarian kebenaran objektifnya atas dunia sehingga lupa kalau sebenarnya dia juga manusia. Padahal kebenaran objektifnya ini sama sekali tidak relevan dengan kehidupan pribadi seorang individu. Kebenaran ini tidak relevan ketika kita sedang bingung menentukan sebuah pilihan-pilihan dalam hidup. (lagi…)
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

2 comments