Psikologi: Ilmu yang Mengecewakan (?)
Pertama kali saya takjub dan tertarik dengan ilmu psikologi adalah ketika saya berkenalan dengan Teori Psikoanalisisnya Freud. Waktu itu saya memang, bisa dibilang, memiliki rasa ingin tahu yang besar sekali dalam memikirkan segala sesuatu yang mendasar berkaitan dengan hidup. Barulah saya tahu bahwa topik yang saya pikirkan itu bisa dipayungi oleh istilah “Filsafat”. Untuk mengurangi ketegangan dari rasa ingin tahu dan kecemasan yang saya rasakan pada saat itu, mulailah saya melahap literatur-literatur berbau filsafat. Rindu sekali rasanya dengan gairah belajar saya dulu. Tapi itu cerita lain.
Nostalgia Buta
Entah kenapa kenangan masa lalu selalu membahagiakan. Sementara masa kini terasa bagaikan hidup sebagai pecundang. Tulisan-tulisan saya di masa lalu sangat bagus dan inspiratif. Sementara di masa kini saya hanya dapat menulis tulisan-tulisan meta–tulisan tentang tulisan itu sendiri. Saya tidak tahu apalagi yang tersisa di diri saya saat ini. Segalanya serba lemah. Memori lemah, kognitif lemah, daya baca lemah. Ah, pokoknya semua serba lemah.
Sampai-sampai saya kali ini bertanya. Koq saya dulu bisa sehebat itu ya. Jadi, apa yang bisa saya lakukan sekarang?
Tidak Ada Ide
Mulai menulis lagi. Melihat tulisan-tulisan lawas, saya merasa bahwa ide di otak saya sudah terkuras habis. Apa karena saya tidak pernah masturbasi dan merokok lagi? Kamar mandi, kata orang adalah sumber inspirasi. Akan tetapi, sudah habis inspirasi saya dari sana. Habis itelan oleh sakit skizofrenia, mungkin.
Sabda Mephistopheles kepada Semut
Hai, manusia. Aku sering melihat kalian mendongakkan kepala berjalan di atas muka dunia. Aku sering mendengar kalian menepuk dada bangga mengatakan “kamilah khalifah semesta”. Hmpf…Tahukah kalian, ketika dengan antusias kalian merayakan kehidupan, kenaifan itu lebih sering membuatku tertawa. Seringkali kalian merasa lebih agung daripada makhluk lainnya. Itu menggelikan sekali, kawanku. (lagi…)
Ceracau Saintisme
Kian dewasa sains, kalau bukan mati seperti kata Nietzsche, kian tercekiklah Tuhan. Di sisi gelapnya, sains itu ganas, reduksionis, meniadakan makna, melecehkan kemanusiaan. Ketika segala fenomena dijelaskan secara naturalistis, Tuhan diletakkan hanya sebagai pengisi celah dari fenomena yang gagal dijelaskan. Praktis, sains itu merongrong kebudayaan. Ini bukan perkara doktrinasi worldview saja, mari lihat kuasanya. Ada kloning lah, stem sel lah, modifikasi gen lah, manajemen sumber daya manusia lah. Semuanya bisa dikatakan cukup berhasil untuk menunjukkan evidensi bahwa “dogma kamilah yang benar”. Dogma empirisisme bahwa yang bisa diterima sebagai kebenaran hanyalah persepsi indrawi. Dogma materialisme bahwa satu-satunya realitas adalah realitas material. Ah, terkadang saya takut kalau-kalau para behavioris memang benar dan para humanis hanyalah sekelompok orang yang kelewat optimis.

tinggalkan komentar