Sekali Lagi, Soal Dadu, Penjara, dan Kegalauan
Saya membayangkan kehidupan Baruch Spinoza yang sepanjang hidupnya menjadi pengamat. Dan hanya menjadi pengamat hingga akhir hayat. Ya, dia filosof yang menegaskan determinisme. “Baik pada level makro maupun mikro, semua kejadian di dunia ini merupakan rentetan dari sebab-akibat.”
Menariknya, bagi Spinoza itupun terjadi bahkan pada level manusia. Maka, dalam karyanya Political Treatise (1677) ia menuliskan, “Saya berusaha berhati-hati untuk tidak mengejek, menyesali, atau mengutuk tindakan manusia, tapi memahaminya.” Saya pernah menulis ini sebelumnya, di sini.
Irasional!
Agaknya prinisip tersebut, yang merupakan hasil refleksi intuitifnya, menjadi keyakinan. Saya sebut keyakinan, karena prinsip ini secara common sense irasional. Kita mengandaikan bahwa manusia memiliki kesadaran, dan oleh karena itu memiliki kehendak bebasnya sendiri. Karenanya, kita menjadi memiliki legitimasi untuk memberi penilaian terhadap segala tindak-tanduk orang lain. Bahkan hingga hari ini, di kalangan ilmuwan psikologi keyakinan deterministik Spinoza masih menjadi perdebatan panjang. Singkatnya, irasional!
Akan tetapi mari coba andaikan, manusia tidak memiliki kehendak bebas. Di dalam diri manusia hanya terdiri serpihan bawaan dan serpihan lingkungan. Nature dan Nurture. Manusia tidak lebih terdiri dari bawaan biologisnya serta penerima faktor lingkungan. Gejolak di dalam dirinya sebatas dinamika berkerjanya mesin, seperti arloji yang terus berputar setelah selesai dibuat. Praktis, manusia adalah mesin. Paradigma ini akhirnya dipinjam oleh aliran behavioris dan psikodinamis.
Dan melalui pengamatan intuitif, dua pendekatan itu kita curigai sebagai pandangan manusia yang reduksionistik. Saya bisa paham, sebagai orang yang dibesarkan dengan gaya feodalisme jawa, serta ajaran Islam yang kental (bahkan dogmatis). Kita percaya bahwa ada ruh di dalam diri kita dan setiap manusia di sekitar kita. Kita tidak bisa menerima paradigma positivis barat yang memakai pisau bedah ilmu pengetahuan untuk mengetahui manusia sebagai objek.
Keberadaan Ruh
Maka, aliran humanistik terlihat lebih bersahabat di mata kita. Dalam humanisme kita boleh senang merayakan kehendak bebas kita. Kebebasan untuk merayakan kesenian, kebudayaan, gelak tawa, dan cinta. Meski, menurut saya, kita rentan terjebak dalam lubang kemanusiaan sempit yang akhirnya menganggap emosi negatif sebagai emosi yang diharamkan. Sejak kapan orang tidak diperbolehkan galau? Secara pribadi, saya lebih senang memeluk eksistensialisme: untuk menerima kehidupan, seseorang harus menerima kenyataan bahwa suatu saat nanti ia akan mati. Eh, tapi itu cerita lain.
Kembali lagi ke perdebatan soal determinisme versus kehendak bebas. Saya sendiri percaya bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Meskipun ya, ini juga keyakinan, karena common sense bukan berarti ia menjadi rasional. Pada akhirnya belum ada yang bisa menyimpulkan apakah manusia memiliki kehendak bebas atau tidak. Setahu saya belakangan ini Fisika Quantum mencoba menengahi perdebatan ini, determinisme ditantang dengan adanya probabilitas pada level quantum. Tapi ilmu Fisika Quantum ini pun, bahkan di kalangan fisikawan, adalah ilmu yang interpretasinya paling banyak! Bisa dibayangkan betapa njelimetnya.
Akhirul kalam, apa yang diajarkan Spinoza mungkin secara epistemologi kebudayaan kita tidak dapat diterima. Akan tetapi secara etis, sarat dengan budaya Timur. Akan menjadi dunia yang indah ketika orang-orang berhenti melihat orang lainnya dengan penuh prasangka curiga, lemah dan tak berdaya. Seperti Spinoza katakan,“Saya berusaha berhati-hati untuk tidak mengejek, menyesali, atau mengutuk tindakan manusia, tapi memahaminya.”
Apabila Spinoza belajar ilmu psikologi positif mungkin ia juga akan menambahkan: dan memberdayakannya :p

tinggalkan komentar