Bolehkah Saya Berkata “Sialan”?
Ada yang bilang menulis itu katarsis. Ada yang bilang menulis itu bekerja untuk keabadian. Yang pertama lebih kepada alasan emosional. Yang kedua lebih kepada alasan rasional. Yang pertama tentunya lebih menyenangkan. Yang kedua lebih menguras tenaga. Dan, ya, tidak mesti dikotomis, keduanya bisa dilakukan bersamaan.
Sebelum paradigma dunia beralih ke melulu yang objektif, saya pikir, semua karya tulis merupakan buah katarsis.
Ia selalu merupakan perwujudan perasaan yang hadir dalam benak sang penulis. Seperti yang kita tahu, di balik perasaan biasanya tergambar pemikiran. Pemikiran terwujud dalam bahasa. Terjewantahkan dalam kata dan kalimat yang memiliki makna. Dengan tulisan yang dibasahi emosi, biasanya pembaca yang empatik dapat merasakan juga apa yang dirasakan sang penulis atau ia dapat merasakan emosi apa yang coba penulis sampaikan.
Jurnalis, sastrawan, dan ilmuwan memiliki caranya sendiri menyikapi perihal emosi ini. Ilmuwan tentu saja, meminimalisir bantahan, memiliki tuntutan untuk melakukan pendekatan ilmiah yang semua-orang-dapat-terima. Akan tetapi di lain hal, sastrawan biasanya sarat dengan campur aduk emosional. Perihal jurnalistik, menurut saya, tidak punya aturan tegas, ia seperti tarik menarik antara tuntutan objektivitas dan perasaan yang berkecamuk.
Entahlah, saya sedang merasa apa yang saya tuliskan sebenarnya dipenuhi oleh kelabilan masa remaja saya saja. Seperti disebutkan Arnett, seorang psikolog perkembangan, sebagai Storm and Stress, yang berciri: konflik dengan orang tua, perubahan mood yang cepat, dan perilaku berisiko. Yang pertama memang tidak, akan tetapi yang kedua dan ketiga sepertinya jelas.
Tulisan saya belakangan lebih terdengar sebagai gonggongan dan ceramah. Padahal saya sendiri mengaku menentang mereka yang mendikte. Jujur, saya merindukan tulisan yang santun dan tidak menggurui.
Pertanyaan berikutnya, haruskah saya mengubah pola tulisan saya di sini agar lebih objektif? Sudahlah. Di dalam gejolak kelabilan justru ada kesejatian. Maksud saya, biar ini menjadi bukti keabadian remaja saya saja. Mungkin nanti, ketika tua, saya akan terkekeh-kekeh sendiri melihat kelabilan saya saat ini.
Maka, seperti diutarakan seseorang, saya akan tetap menulis dengan kertas putih beserta keadaan kaotik dalam diri saya. Hehe. Boleh dianggap ini ocehan anak kecil. Ah, semoga dapat dimengerti.

tinggalkan komentar