Holiloli

Pedang Melawan Goliath: Agama

Ditulis dalam Etika, Opini, Psikologi, Sosial, Teologi oleh Fadirbuja pada Januari 8, 2012

Majalah Tempo, dalam edisi 8 Januari 2011 menulis ini di kolom opininya: “Mengkaji hukum korupsi melalui berjilid-jilid kitab klasik pesantren merupakan gagasan menarik, sekaligus berani. Apalagi hasilnya berupa buku fikih korupsi yang rasanya belum pernah diterbitkan siapa pun [...] Maka tentulah satu perahu dengan kami dalam memerangi korupsi, yang masih sangat berbahaya di negeri ini.”

Di saat nilai-nilai barat sering menyusup ke alam bawah sadar kita melalui perangkat medianya yang luar biasa. Ketika mengakarnya revitalisasi Islam menggunakan standar a la Arab. Kala Keindonesiaan kita diombang-ambingkan hegemoni westernisasi dan Islamisasi. Keluar dari kacamata politis itu, saya rasa Tempo faham duduk masalahnya: mereka yang menggunakan jalan agama untuk berjuang melawan penindasan patut diapresiasi.

Sepanjang zaman, mungkin tidak ada lagi kekuatan moral sehebat agama dalam menyajikan standar soal yang baik dan yang buruk. Seseorang yang religius, dalam ajaran agama saya, Islam, dituntut untuk memiliki sikap dan niat yang baik terlebih dahulu. Niat dianggap lebih penting dibandingkan tindakannya. Oleh karena itu dengan agama, pedalaman karakter seseorang tumbuh, seseorang melakukan suatu hal bukan karena atmosfer sosialnya, melainkan karena ketulusan niatnya. Dan bagi saya, tindakan kenabian selalu terlihat sebagai upaya revolusioner untuk membenahi kondisi moral suatu masyarakat.

Mari lihat Muhammad. Muhammad memulai tugas kerasulannya dari kesendiriannya di Gua Hira. Dari wahyu Allah yang disampaikan kepada Jibril, secara halus ia mulai berpolitik. Politik dengan tujuan mulia. Politik yang memiliki visi untuk membenahi manusia-manusia jazirah Arab yang masih jahil. Pedang dan Perang masih dianggap alat perjuangan untuk meraih sesuatu yang lebih mulia: keridaan Allah. Dan saya percaya, meski hasilnya mungkin belum sempurna, Muhammad telah sekuat tenaga memperjuangkan niatnya yang mulia itu. Hingga saat ini, semangatnya masih menggelora meski telah lewat 14 abad.

Oleh karena itu, apabila benar, saya kecewa, kenapa Muhammad ditakdirkan menjadi Nabi terakhir. Melihat muramnya dunia saat ini. Di mana kerakusan harta benda dan keserakahan kekuasaan memiliki legitimiasinya sendiri. Kala uang dan mall metropolitan menjadi altar penyembahan manusia-manusia modern. Kala bahkan pelajar di universitas yang katanya kerakyatan sedikit sekali yang berani menunjukkan kepeduliannya terhadap masa depan bangsanya sendiri. Sesungguhnya kita butuh Nabi. Nabi yang berkata, hei manusia buat hidup kalian bermakna dengan memikirkan kehidupan surga-neraka setelah mati! Lakukan kebaikan di dunia ini! Semoga kalian dirahmati, kalian manusia-manusia yang kebingungan pegangan nilai!

Terkurung

Mungkin juga ia akan menambahkan, jangan egois dengan hanya memikirkan keselamatan kalian di akhirat! Kritik itu yang patut dialamatkan kepada mereka yang mengaku menjalankan Islam secara kafah. Seperti A. A. Navis dalam cerpennya Robohnya Surau Kami yang menceritakan, bahwa dia yang kerjanya hanya di masjid beribadah dan berdzikir justru dibakar di neraka karena tidak mengolah tanah di sekitarnya menjadi makanan untuk anak istrinya yang kelaparan.

Fenomena yang dapat difahami, di tengah derasnya arus informasi global, setiap ideologi seperti menjajakan diri tak ubahnya seperti jualan kecap. Untuk mempertahankan hidupnya, setiap agama membentuk konsolidasi. Cemas dan akhirnya semakin eksklusif. Hanya peduli apa yang ajaran agamanya katakan, sebatas hubungan horizontal hamba dan Tuhannya, mengatur gaya hidup, lupa dengan sesamanya. Mereka lupa, kita bisa disatukan oleh kesamaan perjuangan: perjuangan melawan penindasan.

Mungkin ketulusan adalah barang mewah di dunia ini. Kita curiga satu sama lain. Saya pun curiga. Misalnya, di saat banyak intelektual di barat yang melihat kesewenang-wenangan Israel di Palestina sebagai hal biasa. Saya curiga, mana koar-koar mereka soal kemanusiaan. Melihat pengalamannya Noam Chomsky, intelektual anarkis sekaligus ilmuwan psikologi dari Amerika, yang baru berani menyatakan sikapnya oposisinya terhadap Israel setelah bapaknya meninggal. Karena takut bapaknya dijauhi kolega-kolega yahudinya. Ya, sepertinya ketulusan sulit dicari di sebuah lingkaran politik.

Nabi itu Intelektual

Saya ingat pada suatu waktu Chomsky pernah bilang, nabi juga bisa disebut intelektual. Ia berjuang dengan visi melawan penindasan dan kesejahteraan umat, sekaligus melek lingkungan sekitar dengan memberikan analisis geopolitiknya. Saya setuju.

Saya dapat impresi bahwa musuh utama Intelektual adalah kekuasaan. Begitulah perjuangan kenabian. Selalu melawan kekuatan tiranik. Muhammad melawan tiran jahiliyah jazirah arab, Yesus melawan tiran kerajaan roma, Daud kecil melawan raksasa Goliath!

Nurcholis Madjid yang memproposisikan gagasan ini. Menafsirkan Al-Baqarah ayat 256: sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Saya yakin betul telah jelas yang dimaksud Allah di sana bukan maksud untuk menunjukkan arogansi-Nya. Tapi maksud bahwa yang benar dan yang sesat sesungguhnya telah jelas, sehingga semua orang juga bisa mengenalinya. Thaghut, meminjam Cak Nur, didefinisikan kekuatan tiranik yang selalu ada sepanjang zaman. Yang sekarang menjelma menjadi kapitalis-kapitalis gendut berduit yang bisa santai bermalas-malasan menikmati hidup di atas keringat buruh berupah rendah.

Mungkin Allah tidak menakdirkan turunnya Nabi lagi karena kita, sudah tidak cukup jahil untuk menyadari keadaan ini. Yang diperlukan adalah semangat untuk mencoba mengubah. Mari…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s