Pencitraan dalam Politik
“Mayoritas besar manusia puas dengan kesan luar, seolah kesan itu adalah realitas.”
~ Nicolllo Machiavelli
To the point saja. Yang menjadi perhatian saya sekarang adalah capres-cawapres yang berlomba-lomba mendapatkan kekuasaan tertinggi di republik ini. Berbagai cara ditempuh: manuver politik, koalisi, kampanye. Yang paling penting diantara semua itu adalah kampanye. Istilahnya memang cuma digunakan dalam pemilu, tapi sebenarnya tidak ada bedanya dengan promosi keunggulan kecap. Letak kesuksesan sebuah kampanye adalah keberhasilan tim sukses membangun citra, secara umum sehingga menjadi opini publik, bahwa capres-cawapres yang mereka tawarkan adalah yang terbaik.
Ya, membangun citra yang baik. Melalui media-media massa yang ada.
Mengapa melalui media massa? Bagaimanapun juga pemilih yang jumlahnya jutaan orang tidak mungkin dapat melihat secara langsung sepak terjang sang capres-cawapres. Tidak mungkin mengetahui, misalnya, track recordnya, keberhasilannya, dll. tanpa melalui media massa. Disini perlu dikotomi antara realitas dan citra. Realitas adalah keadaan sebenarnya. Sedangkan citra adalah keadaan yang sebagaimana tampaknya. Dan masalah apakah citra tersebut sesuai realitas atau tidak, jawabannya bisa ya atau tidak.
Sebagai contoh saja, pasangan capres-cawapres sekarang dicitrakan bersih dari korupsi. Tetapi apa memang benar? Setidaknya begitulah opini publik. Coba, berapa orang yang tahu bahwa semua pasangan capres-cawapres sekarang pernah terlibat dalam korupsi menerima aliran dana DKP? Mungkin hanya segelintir. Itu hanya salah satu saja.
Opini publik memang dapat dimanipulasi. Inilah salah satu kelemahan sistem demokrasi: Capres-cawapres yang dapat memenangkan pemilu adalah yang paling sukses membentuk opini publik yang baik, peduli setan citra tersebut sesuai dengan realitas atau tidak. Demokrasi, jika pemilunya jujur dan adil sekalipun, tidak melahirkan pemimpin yang paling capable, tapi yang paling baik pencitraannya.
Politik itu menjijikan, kata salah seorang teman. Dan, ya, tidak sedikit orang yang berpandangan seperti itu. Politik identik dengan cara mendapatkan kekuasaan: simbol dari keserakahan dan kerakusan. Sampai-sampai ketika seseorang mengatakan “Kasus ini jangan dipolitisir!” kata dipolitisir disitu mengandung konotasi negatif. Apalagi dalam masalah pencitraan ini. Saya sih hanya dapat berdoa agar para tim sukses tidak melakukan hal yang aneh-aneh demi mendongkrak suara pemilih. Sambil berharap, semoga media massa selalu kritis dan tidak menjual idealismenya demi uang.

Hmm… simbol anarkis. Nampaknya Shandy cuma lagi pencitraan.
Haha