Holiloli

Biar Bergulir Perlahan

Ditulis dalam Opini, Sosial, Katarsis, Etika, Psikologi oleh Fadirbuja pada Januari 11, 2012

Entah kenapa tadi sore ada dorongan untuk menonton film.  Saya teringat film yang tahun lalu pernah saya tonton, Life is Beautiful (1997). Saya tonton ulang film itu. Dalam film, diceritakan Guido yang humoris menjalani hidup dengan entengnya menjahili orang ke sana ke mari. Seolah tanpa beban, ia dipertemukan dengan jodohnya seperti kejatuhan bidadari dari langit. Ah, supaya tidak terbeberkan jalan ceritanya, salah satu yang menarik saja, Guido mencoba tidak melihat segala sesuatu melulu dengan maksud prasangka, akan tetapi dengan kacamata bahwa segala sesuatu serba positif. Jadi, saat sentimen anti-semit menguat, begini si Yahudi Guido menjawab pertanyaan anaknya yang membaca tulisan “No Jews or Dogs Allowed” di pintu sebuah toko:

“Why aren’t Jews or dogs allowed to go in?”

“They just don’t want Jews or dogs to go in. Everybody does what they want to.”

(lagi…)

Bolehkah Saya Berkata “Sialan”?

Ditulis dalam Katarsis oleh Fadirbuja pada Januari 9, 2012

Ada yang bilang menulis itu katarsis. Ada yang bilang menulis itu bekerja untuk keabadian. Yang pertama lebih kepada alasan emosional. Yang kedua lebih kepada alasan rasional. Yang pertama tentunya lebih menyenangkan. Yang kedua lebih menguras tenaga. Dan, ya, tidak mesti dikotomis, keduanya bisa dilakukan bersamaan.

Sebelum paradigma dunia beralih ke melulu yang objektif, saya pikir, semua karya tulis merupakan buah katarsis.

(lagi…)

Sekali Lagi, Soal Dadu, Penjara, dan Kegalauan

Ditulis dalam Opini, Sosial, Epistemologi, Eksistensialisme, Etika, Psikologi oleh Fadirbuja pada Januari 9, 2012

Saya membayangkan kehidupan Baruch Spinoza yang sepanjang hidupnya menjadi pengamat. Dan hanya menjadi pengamat hingga akhir hayat. Ya, dia filosof yang menegaskan determinisme. “Baik pada level makro maupun mikro, semua kejadian di dunia ini merupakan rentetan dari sebab-akibat.”

Menariknya, bagi Spinoza itupun terjadi bahkan pada level manusia. Maka, dalam karyanya Political Treatise (1677) ia menuliskan, “Saya berusaha berhati-hati untuk tidak mengejek, menyesali, atau mengutuk tindakan manusia, tapi memahaminya.” Saya pernah menulis ini sebelumnya, di sini.

(lagi…)

Pedang Melawan Goliath: Agama

Ditulis dalam Opini, Teologi, Sosial, Etika, Psikologi oleh Fadirbuja pada Januari 8, 2012

Majalah Tempo, dalam edisi 8 Januari 2011 menulis ini di kolom opininya: “Mengkaji hukum korupsi melalui berjilid-jilid kitab klasik pesantren merupakan gagasan menarik, sekaligus berani. Apalagi hasilnya berupa buku fikih korupsi yang rasanya belum pernah diterbitkan siapa pun [...] Maka tentulah satu perahu dengan kami dalam memerangi korupsi, yang masih sangat berbahaya di negeri ini.”

Di saat nilai-nilai barat sering menyusup ke alam bawah sadar kita melalui perangkat medianya yang luar biasa. Ketika mengakarnya revitalisasi Islam menggunakan standar a la Arab. Kala Keindonesiaan kita diombang-ambingkan hegemoni westernisasi dan Islamisasi. Keluar dari kacamata politis itu, saya rasa Tempo faham duduk masalahnya: mereka yang menggunakan jalan agama untuk berjuang melawan penindasan patut diapresiasi.

(lagi…)

Alienasi dalam Dunia yang Serba Objektif

Ditulis dalam Uncategorized, Sosial, Katarsis, Eksistensialisme, Etika, Psikologi oleh Fadirbuja pada Januari 6, 2012

Mungkin fenomena ini dimulai ketika mereka, para ilmuwan dan pemikir, mulai memahami manusia dengan cara mengambil jarak dengannya. Maka terbitlah jurnal-jurnal penelitian sebagai pencapaian terakhir atas kehausan terhadap cara pemahaman dunia yang objektif. Emosi haram dilibatkan. Subjektivitas emosi berpotensi membiaskan hasil penelitian. Rasionalitas yang jernih lah yang diperlukan. Dengan rasio yang sama kita semua akan menemukan kebenaran yang satu, begitu kata mereka.

(lagi…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.